Selamat Datang ,@}:-',-- Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Showing posts with label Bulangan Londong dan Sembangan Suke Baratu. Show all posts
Showing posts with label Bulangan Londong dan Sembangan Suke Baratu. Show all posts

Bulangan Londong (sambungan)

Bulangan londong sebagai media peradilam

    Pada masa lalu, jaman ketika masyarakat masih dominan menganut kepercayaan Aluk Todolo ada 7 (tujuh) jenis peradilan (tarian pitu dalam istilah Toraja) dalam menyelesaikan sengketa, salah satunya adalah bulangan londong.

    Mengapa dikatakan sebagai Tarian Pitu? (Tujuh model peradilan), karena menurut Aluk Todolo dalam kepercayaan masyarakat Toraja bahwa Tujuh kali dibentuk/diciptakan diatas langit (pempitu di kombong dao langi'), dimana angka tujuh dalam masyarakat Toraja jaman dulu adalah angka yang sakral dan sempurnah sesuai dengan kepercayaan Ada' sanda pitunna (kepercayaan serba bilangan tujuh).

    Persoalan atau sengketa yang dibawa kedalam peradilan tarian pitu ini adalah sengketa yang tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan atau menemui jalan buntu dalam musyawarah keluarga dimana kedua belah pihak tidak ada yang mengalah atau tidak mau mengakui kesalahannya.


    Dengan peradilan ini diharapkan kedua pihak yang bersengketa dapat menemukan penyelesaian dengan damai tanpa dendam. Pada prosesi peradilan ini kedua belah pihak membawa seekor ayam jantan yang dianggap kuat dan tangguh, kemudian ayam-ayam ini diserahkan kepada Penghulu adat dalam istilah Toraja disebut Tominaa. Setelah ayam jantan ini diserahkan kepada Tominaa maka tominaa akan melakukan suatu prosesi yaitu dengan melakukan ritual doa kepada Puang Matua (Tuhan), Deata (Malaikat) dan Tomembali puang (arwah leluhur) agar diberikan petunjuk siapa sebenarnya yang benar dan salah.
    Doa sakti ini sangat ampuh, sehingga ketika ayam yang sementara diadu tersebut akan kalah atau mati bagi pihak yang bersalah, dan ayam bagi yang benar akan tetap kuat dan tidak akan terjadi apa-apa, kecuali bilamana kedua belah pihak memang bersalah kedua-duanya, maka ayamnya akan lari atau mati kedua-duanya.

    Hal ini seperti ada barang yang merupakan milik orang lain dan mereka klaim sebagai miliknya padahal baik pihak A maupun pihak B tidak ada sangkut pautnya dengan barang atau harta tersebut.

    Mengapa media peradilan yang digunakan adalah ayam jantan? ini karena menurut litani penciptaan dalam aluk todolo bahwa nenek moyang ayam juga diciptakan bersama-sama seperti nenek moyang manusi (Tolino)



Back | Bersambung

Bulangan Londong dan Sembangan Suke Baratu (Adu Ayam bukan Judi)

Bulangan Londong dan sembangan suke baratu dalam masyarakat Toraja dahulu kala terbagi dalam 3 (tiga) fungsi utama, yaitu:

  • Bulangan Londong sebagai ritual rambu solo' bagi kalangan kasta tertentu (kasta tinggi)
  • Bulangan londong sebagai peradilan adat
  • Bulangan londong sebagai sarana penggalangan dana

Berikut ini akan kita bahas satu persatu untuk ke-3 fungsi dan tujuan dari bulangan londong dan semanbangan suke barata kepercayaan masyarakat Toraja masa lalu dalam sistem kepercayaan Aluk To Dolo

Bulangan londong sebagai ritual rambu solo'

adalah bagian dari ritual aluk rampe matampu/rambu solo' (acara kedukaan). Pada masa lalu dikalangan orang Toraja ada 3 (tiga) jenis mode bulangan londong yang merupakan kelengkapan tingkatan ritual sapurandanan (kasta tinggi jaman dulu), yaitu :

  • Bulangan londong sembangan bulo/tuang-tuang (sejenis bambu tetapi ukurannya kecil).

      Ritual ini dilaksanakan paling awal ketika tuang-tuang sudah akan di pasang. Dipasipara' tu manuk londong si tallung pasang anna mangka to di rere' na dipatama tuang-tuang tu rarana sola bulunna (3 pasang ayam jantan diadu, kemudian ayam tersebut di potong dan darah dan bulunya dimasukkan kedalam bambu)

  • Bulangan londong Ma'rara sampin/Ma' balik bane'/Masamma' rara manuk.

      Dipasipara'/dipasibinte tu manuk busa sang pasang, na mangka to na di rere' sitarru'na di ala tu rarana dipake umpi'pikki tu pengkaranga pura dipake (sepasang ayam jantan putih bulunya di adu kemudian darahnya digunakan memerciki peralatan-peralatan yang sudah selesai digunakan sebagai simbol penyucian kembali peralatan tersebut). Peralatan-peralatan ini disucikan kembali agar layak digunakan pada acara yang lainnya khususnya dalam acara kesukaan (rambu tuka'). Mengapa orang Toraja melakukan demikian?, Ini karena menurut kepercayaan Orang Toraja masa lalu (Aluk To Dolo) tidak baik/pamali mencapur-adukkan aroma kedukaan dan kesukaan (pemali umpasirau bumarranna rambu solo' anna rambu tuka')

  • Bulangan Londog Ma' Baba Liang (Adu ayam jantan di depan pintu liang kubur)

      Dipasiparak tu manuk londong sang pasang dio to' ba'ba liang tu la di nai peliang tu to mate marassan unnolai aluk, na ditunu na dikande dio to' ba'ba liang (sepasang ayam jantan di adu didepan pintu liang kubur dimana tempat orang yang sementara diacarakan akan di kubur, kemudian ayam tersebut dipotong dan dimakan di tempat tersebut). Ritual ini dilaksanakan dengan harapan bahwa manuk londong/ayam jantan akan membantua mengantar arwah orang yang meninggal tersebut ke Surga (puya menurut kepercayaan Aluk Todolo)

      Ada sebuah syair seperti ini :

        Kengku manukna lapande'
        Kengku londongna Pong Tulang Didi'
        Angku ma'kukkua' Rokko
        Anna malimbangun sule

Bersambung