Selamat Datang ,@}:-',-- Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Suku Toraja/Toraya

Suku Toraja adalah sebuah suku di Sulawesi Selatan, yang mendiami daerah pegunungan bagian Utara Sulawesi Selatan. Dulunya Toraja dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari Allo (wilayah/negeri seperti bulatan bulan dan matahari)

Asal usul dari Suku Toraja ini juga memiliki mitos tersendiri yang sangat melegenda. Konon, leluhur dari Suku Toraja merupakan manusia yang berasal dari nirwana. Masyarakat Toraja percaya bahwa nenek moyang mereka turun dari langit (To Manurun ri Langi') dengan tangga (eran di langi') yang berfungsi sebagai alat komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan).


Menurut leluhur orang Toraja kata Toraja yang berasal mula dari kata Toraya terdiri dari 2 (dua) suku kata yaitu TO yang artinya Manusia atau Orang dan Raya (Maraya) artinya Besar/Berani/Bangsawan tidak pernah diperintah oleh suku lain di Sulawesi Selatan. Inilah sebenarnya asli arti toraja itu, bila ada yang menerjemakan lain, kemungkinan mereka bercocok-logi dimana ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa arti Toraja adalah orang yang berdiam diatas dataran tinggi/bermukim didaerah pengunungan, tetapi apakah orang Toraja saja yang berdiam di atas daerah pegunungan sulawesi?. Tentu tidak jadi pendapat ini boleh dikatakan sebagai sebuah cocok-logi masa lalu yang kemungkinan bukan bersumber dari masyarakat orang Toraja itu sendiri.

Analogi pemberian nama terhadap suku atau orang tentu berasal dari keluarga atau suku tersebut, jadi tidak mungkin orang lain yang memberikan nama bagi seseorang yang lahir dibukan keluarganya, begitu juga dengan suku Toraja, tidak mungkin orang lain yang mengetahui maksud dari pemberian nama suatu suku yang notabene bukanlah sukunya sendiri. Tetapi suku Torajalah yang tahu persis arti dari nama yang mereka berikan untuk kelompok mereka.

Konon pemberian nama orang gunung bagi orang Toraja itu muncul ketika adanya perang dengan suku Toraja yang berdiam diatas gunung dengan suatu suku yang berada didataran rendah, sebagai bentuk ketidak-senangannya terhadap suku Toraja sebagai rivalnya sehingga mengatakan mari kita perangi orang gunung yang hidupnya primitif itu.

Passapu (Penutup Kepala/Mahkota) Toraja

Kehidupan masyarakat orang Toraja jaman dahulu sudah mengenal sistem strata sosial/ kasta (tana'), dimana kasta-kasta ini terdiri 4 tingkatan, sebagai berikut:

  1. Tana' Bulaan/bulayan/bulawan (Golongan Bangsawan tinggi)
  2. Tana' Bassi (Golongan bangsawan menengah)
  3. Tana' Karurung (Golongan masyarakat kebanyakan)
  4. Tana' Kua-kua (Golongan yang siap setiap kesempatan)

Dalam kehidupan setiap hari pada jaman dahulu golongan bangsawan sangat mudah diidentifikasi dengan melihat aksesori yang ada pada kepala mereka, yakni Passapu sejenis mahkota tradisonal masyarakat jaman dahulu. Pada jaman sekarang masih sering dijumpai orang menggunakan passapu ini tetapi fungsinya sudah sedikit bergeser dari peranan dan fungsi sebagaimana awalnya. Karena kemajuan zaman sudah banyak kaum keturunan bangsawan sudah tidak mau menggunakannya lagi disebabkan karena selain merepotkan dalam pemakaiannya mungkin juga karena tidak percaya diri yang disebabkan pergeseran kehidupan dan kemajuan ekpnomi masyarakat, serta alasan-alasan lainnya.

Passapu adalah mahkota tradisional masyarakat toraja jaman dahulu kala, dimana kainnya dihiasi dengan motif batik yang unit dengan model-model tertentu dan istimewa. Passapu ini hanya dikhususkan bagi kaum bangsawan laki-laki. Setiap model dan motif passapu mempunyai makna sendiri-sendiri.

Berikut ini adalah jenis-jenis passapu serta peruntukannya:

  1. Pa' Tallu Silolok/tiga ujung berdiri adalah ketiga ujung/sudut kainnya berdiri.
    Passapu Pa' tallu silolok merupakan mahkota/passapu bagi kaum bangsawan dengan status sosial tinggi

  2. Pa' Lindo Para. Bentuk passapu/mahkota ini adalah pada bagian depan berbentuk piramida/segitiga mirip bagian depan-atas rumah.
    Mahkota/passapu jenis ini adalah diperuntukkan bagi para keturunan bangsawan dari suatu wilayah adalah dalam sistem tongkonan, tetapi tidak mempunyai jabatan selain menandakan sebagai para keturunan

  3. Pa' Sossoran Rengnge'/Pengkalossoran. Model dari mahkota/passapu ini adalah kedua ujung kain pada bagian pelipis mengarah kebawa, tidak ada ujung kain yang menghadap keatas.
    Mahkota ini diperuntuk bagi para tominaa/imam (pendoa). Semua ujung menghadap kebawah sebagai tanda bahwa dalam melakukan ritual doa kita harus senantiasa merendahkan diri dihadapan Tuhan/Puang Matua karena Tuhanlah yang empunya kehidupan ini

  4. Pattali/Pa' Tali, model mahkota ini adalah kain yang dilipat dengan lebar tidak lebih dari empat ukuran lebar jari dan disimpul pada bagian belakang, tidak ada ujung kain yang menghadap keatas.
    Mahkota ini deperuntukkan bagi para penyelenggaran adat.


Konon ceritanya bahwa passapu/mahkota dari para kaum bangsawan pada jaman dahulu memiliki unsur magis, dimana jika ada orang yang mengatakan hal-hal yang sepatutnya terhadap mahkota tersebut akan menyebabkan orang itu jatuh sakit bahkan meninggal jikalau tidak dilakukan tindakan segera misalnya mengadakan upacara permintaan maaf (mangaku dosa/salah) dengan memotong ayam atau babi sesuai dengan tingkat pelanggarannya.

Meskipun tradisi ini sudah tidak mengikat lagi didalam kehidupan masyarakat Toraja karena pergeseran saman, tetapi paling tidak harus diketahui adanya kearifan nenek moyang masa lalu

Demikianlah sepenggal sejarah mahkota masyarakat Toraja masa lalu yang dikenal dengan Passapu, semoga bisa menambah khasan ilmu pengetahuan bagi generasi muda khususnya generasi muda Toraja akan nilai sejarah peradaban nenek moyang dimasa lampau.

Prosesi Pemakaman Tingkat Tinggi Di Toraja Jaman Dahulu

Masyarakat Toraja sejak jaman dahulu kala sudah memiliki norma, nilai adat serta tradisi-tradisi yang boleh dikatakan sudah maju dijamannya. Masyarakat toraja juga sudah memiliki aturan-aturan yang harus dipatuhi atau dipedomanni dalam hidup bermasyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat Toraja, mereka membagi tingkatan-tingkatan/strata sosial dalam kehidupan lengkap dengan aturan yang harus dipatuhi dan dihormati. Begitu juga dalam acara/proses pemakaman memiliki aturan tersendiri sesuai pranata sosial yang sudah diatur dan disepakati oleh para pemangku adat/pemerintahan pada jamannya. Akan tetapi seiring perkembangan jaman sistem ini mulai berubah dan bahkan hampir punah seiring meleburnya sistem kasta menjadi kesamaan hak dan kedudukan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada kesempatan ini akan dijabarkan jenis prosesi pemakaman untuk kasta tertinggi aturan masyarakat Toraja jaman dahulu, sebagai berikut:

  1. Sarrinan Bone-Bone

    Prosesi ini adalah prosesi yang tertinggi dari prosesi tertinggi lainnya, dimana pada prosesi ini semua aksesori yang berhubungan dengan acara kedukaan sesuai dengan tradisi wilayah adat masing-masing.

    Jumlah kerbau yang dikorbankan adalah minimal 42 kerbau dan jenis kerbau lengkap sesuai aturan wilayah adat masing-masing, diacarakan dalam suatu lapangan yang oleh orang Toraja disebut Rante Kalua'/Tandung sea-sea. dibuatkan tempat persemayaman yang tinggi dalam bahasa Toraja dikenal dengan istilah Lakkian dengan model seperti rumah adat Toraja, yaitu Tongkkonan. Pondok (lantang) dimodel seperti model rumah tongkonan (dilonga), pondok dibuat bertingkat-tingkat

    Almarhhum/mah diberi hiasan lapisan emas pada kain pembungkusnya dalam istilah Toraja di sebebut di daman bulaan/bulayan/bulawan.

  2. Rapasan Sapu Randanan

    Jumlah kerbau yang dikorbankan pada prosesi ini adalah 32 ekor - 41 ekor kerbau, diupacarakan di rante kalua' dibuatkan lakkian, lantang (pondok) dimodel seperti rumah Tongkonan (dilonga) dan bisa ditingkat bila diinginkan oleh keluarga almarhum/mah. Semua jeis kerbau juga lengkap sesuai aturan wilayah adat masing-masing, pembungkus mayat bisa dihiasi dengan lapisan emas kalau ada boleh juga hiasan (daman) warna keemasan.

  3. Rapasan Sundun

    Jumlah kerbau yang dikorbankan pada prosesi ini adalah 24 ekor - 31 ekor kerbau, diupacarakan di rante kalua' dibuatkan lakkian, lantang (pondok) dimodel seperti rumah Tongkonan (dilonga) dan bisa ditingkat bila diinginkan oleh keluarga almarhum/mah. Semua jeis kerbau juga lengkap sesuai aturan wilayah adat masing-masing, pembungkus mayat bisa dihiasi hiasan (daman) warna keemasan.

  4. Rapasan Biasa

    Jumlah kerbau yang dikorbankan pada prosesi ini adalah 16 ekor - 23 ekor, diupacarakan disekitar pelataran rumah duka dimana lakkian (pondok persemayaman) diletakkan disebelah barat depan Tongkonan dan di model seperti rumah tongkonan, lantang (pondok) dibuat hanya satu tingkat atau rata dengan lantai lumbung, pondok bisa dilonga tapi tidak secara keseluruhan, tempat penerimaan tamu (lantang karampoan inan sipoli' waimata okkoran sipakana) dibuat dengan model rumah biasa (dalam istilah orang Toraja Banua Soba'), bisa juga tanpa pondok penerimaan tamu dikarenakan kondisi dan keadaan dipelataran rumah duka yang terbatas. Jadi ketika tamu datang hanya berputar disekitaran pelataran rumah duka dan langsung masuk ke tempat yang sudah ditentukan. Pada prosesi ini semua jenis kerbau juga lengkap tetapi tidak selengkap seperti pada tiga jenis prosesi diatas, misalnya Kerbau salako dan jenisnya hanya disimbolkan dengan hanya satu atau lebih kerbau belang (bonga).

    Kain pembungkus mayat dihiasi dengan daman berwarna keemasan dan bisa dibuatkan patung (tau-tau nangka')

  5. Rapasan Dilayu-layu

    Pada Prosesi ini jumlah kerbau yang dikorbankan minimal 12 ekor kerbau dan dibuatkan pondok persemayaman didepan rumah tongkonan atau dedepan lumbung sesuai dengan ketentuan wilayah adat masing-masing. Biasanya kalau perempuan dibuat didepan lumbung kalau laki-laki didepan rumah tongkonan. Dan rumah persemayaman ini disebut tando' dan tidak dimodel seperti rumah tongkonan (tidak dilonga). Jumlah kerbau juga lengkap tetapi tidak selengkap seperti prosesi yang diatas dan belum bisa dibuatkan patung (tau-tau nangka)


Demikianlah sekilas sejarah masalalu sehubungan dengan prosesi pemakaman kasta tertinggi orang Toraja jaman dahulu, yang tentunya saat ini mungkin sudah tidak eksis lagi maksudnya semua kalangan yang mampu sudah bisa melakukannya tanpa pembatasan seperti dahulu kala.

Semoga ini bisa menambah pengetahuan akan sejarah peradaban masa lalu nenek moyang yang ditinggalkan bagi kita generasi muda orang Toraja

Fungsi dan Peranan Lumbung Masyarakat Toraja

Pengetahuan dan peradaban masyarakat Toraja sudah termasyur dari jaman dahulu dan sudah sangat maju pada zamannya. hal ini bisa diidentifikasi dari cara mereka mendesign dan membuat rumah tinggal, tempat penyimpanan harta benda, bidang pertanian serta undang-undang atau pedoman hidup bermasyarakat serta lain sebagainya.

Dan yang akan dibahas di bahasan ini adalah keajaiban peradaban tempat penyimpanan harta benda yang dikenal dengan Lumbung dalam bahasa Toraja disebut Alang

Dalam kehidupan masyarakat jaman dahulu Alang atau lumbung ini mempunyai fungsi dan peranan penting, yakni:

  • Simbol status sosial
  • Tempat penyimpanan harta benda
  • Tempat penyimpanan bahan makanan seperti padi hasil panen
  • Tempat untuk bersantai
  • Tempat menerima tamu kehormatan
  • dan lain-lain


Bentuk atau model Alang ini hampir sama dengan Rumah adat/Tongkonan, hanya saja ukurannya yang lebih kecil dari tongkonan, dan ada beberapa aksesori ukiran yang tidak bisa digunakan pada lumbung atau Alang.

Alang juga berfungsi sebagai pasangan dari tongkonan dimana tongkonan disimbolkan sebagai Ibu dan Alang disimbolkan sebagai Ayah (ambe').

Tiang penyangga dari Alang adalah dari Pohon yang termasuk dalam jenis palem, dimana pelepahnya penuh duri dan buahnya bergerombol kecil-kecil bulat dengan kulit bersisik dikalangan masyarakat toraja tumbuhan ini disebut banga.
Mengapa dipilih jenis pohon ini sebagai tiang tidak lain karena selain sangat kokoh dan kuat juga batangnya licin dan tidak mudah dimakan oleh rayap. Oleh karena batangnya yang licin maka tikus sangat susah untuk memanjatnya sehingga padi dan harta benda lainnya yang disimpan diatasnya akan aman dari gangguan hama tikus.

Tiang penyangga lumbung ada yang 6 pilar, ada 8 pilar, ada juga yang 12 pilar. Tetapi awal mulanya adalah hanya 6 pilar karena perkembangan dan semakin melimpahnya hasil panen sehingga dibuatlah ukuran yang lebih besar.

Pada jaman dahulu pilar-pilar ini mempunyai peranan masing-masing, yakni:

  • Dua (2) pilar didepan (banga lindo) berperan sebagai sandaran Pemangku adat dan penyelenggara pemerintahan (To Parengnge dan To Makaka). Pada zaman dahulu orang-orang ini selalu ditempat karena mereka sebagai fungsi kontrol pada berjalannya acara sesuai dengan norma dan kaidah yang sudah disepakati. Mereka juga melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat bilamana ada hal-hal yang perlu dimusyawarakan serta memberikan solusi yang terbaik, biasanya mereka dibawakan tempat masak mereka supaya mereka selalu ditempat.

  • Dua (2) pilar tengah (banga tangnga) berperan sebagai sandaran para penasehat dan penopang dalam bahasa toraja para petulak termasuk keturunan bangsawan, para ksatria (pa'barani) yang mendampingi to parengnge'

  • Dua (2) pilar di belakang (banga boko'/banga pollo') berperan sebagai sandaran para pelayan To Parengnge', To Makaka, dan To Petulak. Ketika masih strata sosial masih berlaku di toraja, di tempat inilah keturunan bangsawan yang menikah dengan hamba diberi kedudukan sebagai pelayan khusus atau dalam bahasa toraja disebut Kaunan Bulayan/bulaan/bulawan, pada umumnya garis ayah mereka adalah keturunan bangsawan

Tetapi pada zaman sekarang simbol lumbung bukan lagi sebagai simbol status sosial tetapi berperan sebagai pelestarian budaya warisan nenek moyang, fungsi-fungsi pilar juga sudah tidak total sama dengan fungsi dan peranan masa lalu.

Banyak lumbung yang sebenarnya tidak berisi padi melainkan hanya kosong karena sebagian fungsi dan perannya sudah sedikit bergeser.

Demikianlah sedikit uraian tentang fungsi dan peranan lumbung masyarakat toraja masa lalu, kalau ada yang tidak sesuai silakan dikoreksi dan ditambahkan kalau masih kurang

Aluk Barata

Pada jaman dahulu kala setiap wilayah sudah memiliki berbagai macam tradisi, adat-istiadat dan budaya yang unik serta mengagumkan yang kadangkala kita sebagai manusia moderen dibuat terheran-heran dengan keunikan-keunikan tersebut.
Suatu wilayah yang sangat kaya dengan ragam budaya adalah Toraja yang terletak pada Propinsi Sulawesi Selatan.
Keunikan dan ragam budaya yang ada di Toraja sangat mengagumkan seantero dunia seperti budaya Rambu Tuka' (ritual suka cita) dan ritual budaya Rambu Solo' (ritual duka cita/prosesi pemakaman).

Yang akan kita bahas dalam bagian ini adalah ritual budaya rambu solo' yang tidak biasa atau tidak umum, bahkan kemungkinan besar banyak generasi muda Toraja tidak mengetahuinya yaitu ritual prosesi pemakaman bagi kalangan pimpinan panglima perang yang membela Tondok Lepongan Bulan Tana Matari Allo (Tana Toraja) ketika pasukan Bone mengimvasi Tondok lepongan bulan dan berhasil mengalakan/mengusirnya pada sekitar tahun 1600-san. Ritual tersebut adalah ritual MA'BARATA.

Sebelum perang perlawanan terhadap bone dimulai para pemimpin melakukan konsolidasi dan rapat akbar disuatu daerah yang dikenal Pasa' Bongi.

Didalam pertemuan akbar tersebut para pemimpin memciptakan sebuah slogan yang sangat terkenal yaitu : "MISA' KADA DI POTUO PANTAN KADA DI POMATE (BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH/MATI)".

Didalam acara akbar tersebut konon ceritanya bahwa wilayah yang tidak ikut berperang melawan penjajah bila nantinya para pemimpin ini berhasil mengusir penjajah ini dari Tondok lepongan bulan tana matari allo maka manusia diwilayah tersebut akan dijadikan tumbal bilamana seseorang dari pemimpin atau keturunannya meninggal.

Disinilah konon cerita awal mula ALUK BARATA atau ritual pemotongan manusia di prosesi pemakaman orang meninggal bagi kalangan tertentu (kalangan pemimpin perang) di Toraja.

ketika prosesi pemakaman dimulai maka seseorang atau beberapa orang diutus untuk mencari seorang manusia diwilayah tertentu yang sudah disepakati oleh pempinan perang sebelumnya yang akan dikurbankan dalam acara tersebut.

Menurut cerita ada wilayah yang mengusahakan agar manusia yang akan dikurbankan tetap hidup ketika dibawa ke acara prosesi pemakaman tersebut nanti setelah prosesi penyembelian kerbau dan babi maka korban manusia tersebut juga akan ikut dikurbankan. Ada juga wilayah yang tidak menentukan harus hidup yang penting ada, ada juga wilayah yang menginginkan supaya kurban manusianya sudah mati sebelum dibawa ke prosesi pemakaman.

Setelah hewan dikurbankan bersama manusia itu, maka kepala dari manusia barata tersebut diletakkan diatas sebuah tempat sampai selesainya prosesi penguburan yang meninggal.

Setelah selesai semua ritual rambu solo bagi yang meninggal tersebut maka kepala manusia barata itu dinaikkan kerumah tongkonan yang selanjutnya diletakkan pada bagian atas tiang penopang tertinggi dibagian depan rumah tongkonan atau dalam masyarakat Toraja disebut Tulak Somba.

Fungsi ritual aluk barata bagi kalangan pemimpin sebagai simbol keberanian, kebesaran/wibawa dan sebagai petunjuk dan informasi bagi setiap orang dan generasi bahwa ditempat inilah salah seorang pemimpin perang To Pada Tindo berdiam selama hidupnya.

Demikian jauh ulasan mengenai aluk barata di Toraja yang saya ketahui, semoga bisa menjadi khasana pengetahuan bagi siapa saja terlebih khusus generasi muda Toraja.

Silakan di koreksi melalui kolom komentar kalau ada yang tidak sesuai atau ditambahkan bila ada yang kurang

Kurre Sumanga'

Sembangan Suke Baratu

Sembangan Suke Baratu

adalah sebuah media dari bambu yang dipotong miring (disembang) yang digunakan untuk mengumpulkan donasi bagi keluarga yang berduka. Tetapi makna yang sebenarnya terkandung dalam ritual ini adalah melukiskan bahwa orang yang sedang diacarakan ini adalah bukan kalangan biasa dan dengan penuhnya bambu dengan uang menandakan bahwa orang tersebut merupakan orang yang dikasihi orang banyak dan dielu-elukan.

Prosesinya sperti berikut ini:

    Beberapa pasang ekor ayam jantan disiapkan dan kemudian dibawa dalam arena sambil suke baratu diedarkan keliling oleh seseorang dan berakhir di tempat arena adu ayam. Setelah salah satu ayam kalah maka dari pihak yang menang boleh juga yang kalah memasukkan sejumlah uang kedalam bambu/suke baratu setelah itu suke/bambu tersebut dibawah ke keluarga yang berduka, begitu seterusnya sampai pasangan ayam terakhir yang diadu selesai.

    Konon ceritanya bahwa sembangan suke baratu ini merupakan ritual pengganti untuk acara ma'barata atau dalam ritual aluk todolo merupakan persembahan kepala bagi sialmarhum sebagai tanda kepahlawanan dalam mengusir penjajah.

    Ritual ma'barata juga tidak disetujui oleh pihak belanda ketika masuk ke toraja karena dianggap sadis dan kurang berperikemanusiaan karena dalam ritual ini seseorang yang diambil dari suatu tempat dijadikan korban dan dagingnya dimasak bersama daging hewan kemudian dibagi-bagi untuk dikonsumsi oleh semua yang hadir.




| Back |

Bulangan Londong (sambungan)

Bulangan londong sebagai media peradilam

    Pada masa lalu, jaman ketika masyarakat masih dominan menganut kepercayaan Aluk Todolo ada 7 (tujuh) jenis peradilan (tarian pitu dalam istilah Toraja) dalam menyelesaikan sengketa, salah satunya adalah bulangan londong.

    Mengapa dikatakan sebagai Tarian Pitu? (Tujuh model peradilan), karena menurut Aluk Todolo dalam kepercayaan masyarakat Toraja bahwa Tujuh kali dibentuk/diciptakan diatas langit (pempitu di kombong dao langi'), dimana angka tujuh dalam masyarakat Toraja jaman dulu adalah angka yang sakral dan sempurnah sesuai dengan kepercayaan Ada' sanda pitunna (kepercayaan serba bilangan tujuh).

    Persoalan atau sengketa yang dibawa kedalam peradilan tarian pitu ini adalah sengketa yang tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan atau menemui jalan buntu dalam musyawarah keluarga dimana kedua belah pihak tidak ada yang mengalah atau tidak mau mengakui kesalahannya.


    Dengan peradilan ini diharapkan kedua pihak yang bersengketa dapat menemukan penyelesaian dengan damai tanpa dendam. Pada prosesi peradilan ini kedua belah pihak membawa seekor ayam jantan yang dianggap kuat dan tangguh, kemudian ayam-ayam ini diserahkan kepada Penghulu adat dalam istilah Toraja disebut Tominaa. Setelah ayam jantan ini diserahkan kepada Tominaa maka tominaa akan melakukan suatu prosesi yaitu dengan melakukan ritual doa kepada Puang Matua (Tuhan), Deata (Malaikat) dan Tomembali puang (arwah leluhur) agar diberikan petunjuk siapa sebenarnya yang benar dan salah.
    Doa sakti ini sangat ampuh, sehingga ketika ayam yang sementara diadu tersebut akan kalah atau mati bagi pihak yang bersalah, dan ayam bagi yang benar akan tetap kuat dan tidak akan terjadi apa-apa, kecuali bilamana kedua belah pihak memang bersalah kedua-duanya, maka ayamnya akan lari atau mati kedua-duanya.

    Hal ini seperti ada barang yang merupakan milik orang lain dan mereka klaim sebagai miliknya padahal baik pihak A maupun pihak B tidak ada sangkut pautnya dengan barang atau harta tersebut.

    Mengapa media peradilan yang digunakan adalah ayam jantan? ini karena menurut litani penciptaan dalam aluk todolo bahwa nenek moyang ayam juga diciptakan bersama-sama seperti nenek moyang manusi (Tolino)



Back | Bersambung

Bulangan Londong dan Sembangan Suke Baratu (Adu Ayam bukan Judi)

Bulangan Londong dan sembangan suke baratu dalam masyarakat Toraja dahulu kala terbagi dalam 3 (tiga) fungsi utama, yaitu:

  • Bulangan Londong sebagai ritual rambu solo' bagi kalangan kasta tertentu (kasta tinggi)
  • Bulangan londong sebagai peradilan adat
  • Bulangan londong sebagai sarana penggalangan dana

Berikut ini akan kita bahas satu persatu untuk ke-3 fungsi dan tujuan dari bulangan londong dan semanbangan suke barata kepercayaan masyarakat Toraja masa lalu dalam sistem kepercayaan Aluk To Dolo

Bulangan londong sebagai ritual rambu solo'

adalah bagian dari ritual aluk rampe matampu/rambu solo' (acara kedukaan). Pada masa lalu dikalangan orang Toraja ada 3 (tiga) jenis mode bulangan londong yang merupakan kelengkapan tingkatan ritual sapurandanan (kasta tinggi jaman dulu), yaitu :

  • Bulangan londong sembangan bulo/tuang-tuang (sejenis bambu tetapi ukurannya kecil).

      Ritual ini dilaksanakan paling awal ketika tuang-tuang sudah akan di pasang. Dipasipara' tu manuk londong si tallung pasang anna mangka to di rere' na dipatama tuang-tuang tu rarana sola bulunna (3 pasang ayam jantan diadu, kemudian ayam tersebut di potong dan darah dan bulunya dimasukkan kedalam bambu)

  • Bulangan londong Ma'rara sampin/Ma' balik bane'/Masamma' rara manuk.

      Dipasipara'/dipasibinte tu manuk busa sang pasang, na mangka to na di rere' sitarru'na di ala tu rarana dipake umpi'pikki tu pengkaranga pura dipake (sepasang ayam jantan putih bulunya di adu kemudian darahnya digunakan memerciki peralatan-peralatan yang sudah selesai digunakan sebagai simbol penyucian kembali peralatan tersebut). Peralatan-peralatan ini disucikan kembali agar layak digunakan pada acara yang lainnya khususnya dalam acara kesukaan (rambu tuka'). Mengapa orang Toraja melakukan demikian?, Ini karena menurut kepercayaan Orang Toraja masa lalu (Aluk To Dolo) tidak baik/pamali mencapur-adukkan aroma kedukaan dan kesukaan (pemali umpasirau bumarranna rambu solo' anna rambu tuka')

  • Bulangan Londog Ma' Baba Liang (Adu ayam jantan di depan pintu liang kubur)

      Dipasiparak tu manuk londong sang pasang dio to' ba'ba liang tu la di nai peliang tu to mate marassan unnolai aluk, na ditunu na dikande dio to' ba'ba liang (sepasang ayam jantan di adu didepan pintu liang kubur dimana tempat orang yang sementara diacarakan akan di kubur, kemudian ayam tersebut dipotong dan dimakan di tempat tersebut). Ritual ini dilaksanakan dengan harapan bahwa manuk londong/ayam jantan akan membantua mengantar arwah orang yang meninggal tersebut ke Surga (puya menurut kepercayaan Aluk Todolo)

      Ada sebuah syair seperti ini :

        Kengku manukna lapande'
        Kengku londongna Pong Tulang Didi'
        Angku ma'kukkua' Rokko
        Anna malimbangun sule

Bersambung

Tongkonan Pasang Tua

Tongkonan Pasang Tua adalah tongkonan yang didirikan oleh Ne' Bua' Tua x Ne Lai' Maya dan memperanakkan 7 orang anak, yaitu:

  • Ne' To' Taru'
  • Ne' Makaba
  • Ne' Manuk Rante
  • Ne' Tandi Lalong
  • Ne' Baka Bulaan
  • Ne' Dalo
  • Ne' Palangsaran

Tongkonan ini disebut Tongkonan Pasang karena menurut histori bahwa di Tongkonan inilah awal mula peletakan tatanan Aluk (sistem kepercayaan) untuk wilayah Deri dan sekitarnya.

Ditongkonan ini masih tersisa peradaban masa lalu sebagai bukti Tongkonan ini sebagai tempat peletakan tatanan Aluk (sistem kepercayaan adat-istiadat) wilayah Deri dan sekitarnya, dimana sistem kepercayaan yang dimaksud adalah sistem kepercayaan yang di sebarkan oleh Nene' Sulo Ara' dari Sesean.

Ditempat ini terdapat sebuah batu besar (megalitikum) sebagai tempat peribadatan/persembayangan sistem kepercayaan aluk todolo (kepercayaan Nenek Moyang orang Toraja Jaman Purba), yang konon ceritanya bahwa batu megalitikum ini memancarkan sinar seperti bulan pada saat bulan purnama dan masih banyak yang sempat menyaksikan kejadian itu, akan tetapi pada saat sekarang ini batu megalitikum ini sudah tidak mengeluarkan sinarnya lagi entah karena sudah berpindah dari tempat awalnya atau ada sesuatu yang membuatnya tidak bersinar lagi.

Batu megalitikum ini persis berada disamping tongkonan pada awal mulanya menurut cerita tutur dari beberapa sumber yang merupakan saksi mata, diantarnya adalah Almarhum Ne' Sampe Bua' sebagai pemangku adat di tongkonan ini, Almarhum Ne' Paulus Ro'son Rumpang yang merupakan pemangku adat di Tongkonan Pemanukan, dan Almarhum Ne' Meri sebagai pemangku adat Tongkonan To' Nangka'.

Kini batu megalitikum tempat melakukan pemujaan Nenek Todolo ini sudah berpindah tempat sekitar 50 meter dari tempat awalnya. Dimana konon ceritanya perpindahannya berlangsung lama dan berangsur-angsur.
Perpindahan batu megalitikum ini terjadi setiap bulan purnama sampai akhirnya berada di tempat yang ada saat ini.

Pada saat ini batu megalitikum ini sudah dijadikan oleh masyarakat setempat sebagai liang lahat.

Ma' Lalan Aluk Di Tatak (Prosesi penguburan bagi yang terbunuh)

Pada Jaman dahulu kala di Tana Toraja ada suatu tradisi prosesi penguburan jenazah oleh karena meninggal di medan perang atau dibunuh dimana prosesi ini disebut oleh orang Toraja sebagai Ma' lalan Aluk di Tatak.

Untuk jaman moderan saat ini prosesi ini sudah sangat jarang dilakukan bahkan sudah tidak ada, dan kemungkinan banyak generasi muda Toraja sudah tidak tahu akan adanya tradisi warisan leluhur ini. Oleh karena itu saya mencoba mengulas sedikit mengenai tradisi pada prosesi aluk di tatak, tetapi mungkin masih jauh dari harapan kesempurnaan tetapi paling tidak ada secercah kisah yang bisa diketahui dan bisa diperluas oleh setiap generasi Toraja dengan melakukan penyelidikan ilmiah dengan menanyakan kepada para sesepuh Toraja yang pasti masih mengetahui tradisi ini.

Dalam prosesi ini orang yang meninggal tersebut dibuatkan onggokan tanah mirip timbunan tanah kuburan diatas tanah berbukit atau di suatu tempat yang jauh dari pemukiman penduduk.

Mengapa ditempatkan ditempat demikian? itu karena dianggap bahwa beliau tidak sempat melakukan pembalasan.
Tanah yang dibuat onggokan tersebut bisa diambil dari tanah tempat akan melakukan prosesi adat ma' tatak bisa juga di ambil dari tanah dimana beliau terbunuh.

Prosesi pelaksanaan Aluk ma' tatak biasanya dilaksanakan pada malam hari

Diatas onggokan tanah timbunan menyerupai timbunan tanah kuburan tersebut ditancapkan pohon pisang

Kemudian akan ditentukan seseorang untuk melakukan prosesi dan ritualnya.

Ketika orang yang ditentukan untuk melakukan ritual ini sudah mulai seperti orang kerasukan (dalam kepercayaan orang Toraja kerasukan bisa arwah leluhur yang masuk kedalam tubuh seseorang tetapi dalam prosesi ini yang dipercaya merasuki orang tersebut adalah arwah dari yang meninggal tersebut).

Orang yang kerasukan arwah ini akan melakukan gerakan-gerakan seperti orang yang akan berperang sambil memegang sebilah pedang (la'bo' penai bagi kalangan tertentu atau tombak) sambil berkata balas-balas (ala ko bala'mu) dengan menyebut nama korban tersebut.

Dalam prosesi ini orang-orang yang hadir harus menjauh agar tidak kena sabetan pedang atau tombak oleh yang melakukan prosesi ini
Karena pelaksana aluk ma' tatak ini akan menyabetkan parangnya kesegala arah atau menombak ke segala arah, sehingga sangat berbahaya karena sebenarnya orang yang melakukan ritual ini tidak menyadari apa yang dilakukan melain oleh karena pengaruh roh yang masuk kedalam diri orsng tersebut.

Batang pisang yang ditancapkan diatas onggokan tanah tadi itu akan ditebas membabi buta sampai habis terpotong-potong.

Padang merio-rio, buntu pangallaran memase-mase (lokasi yang menyedihkan dan memiluhkan hati) begitulah istilah orang Toraja untuk tempat dilaksanakannya prosesi ritual Ma' Aluk di Tatak.

Itulah sepenggal sejarah masa lalu yang mungkin jarang kita dengar apalagi melihatnya, harapan saya semoga ini bisa memberikan pengetahuan sedikit akan kearifan peradaban nenek moyang

Mohon dikoreksi atau ditambahkan bagi siapa saja yang mengetahui akan tradisi dan aluk ini, biar menjadi pengetahuan lengkap bagi siapa saja

Tongkonan Layuk

Rumah adat orang Toraja disebut Tongkonan, dimana pada jaman dahulu kala Tongkonan merupakan pusat penyelenggaraan adat-istiadat dan budaya. Seiring perkebangan penduduk dan semakin berkembangnya peradaban nenek moyang orang Toraja maka Tongkonan dalam menyelenggarakan pemerintahan adat dilakukan pemekaran tetapi terpusat pada satu tongkonan utama atau Tongkonan Layuk.

Konon menurut cerita awal mula Tongkonan Layuk di Toraja hanya ada 2, yaitu:

  • Tongkonan Layuk Sulo Ara' di daerah Sesean (masuk dalam Kabupaten Toraja Utara saat ini)
  • Tongkonan Layuk Marinding di daerah Mengkendek (masuk dalam Kabupaten Tana Toraja Saat ini)

Dikatakan Tongkonan Layuk karena darisanalah terbentuknya pranata sosial kemasyarakatan, dimana aturan dan sistem pemerintahan terbentuk. Dimana pengertian Tongkonan Layuk adalah Tongkonan dipo aluk-alukna, dipo ada'-ada'na, dipo-pemali pemalinna, dipo rara-rarana, dipo buku-bukunna. artinya bahwa Rumah Adat tersebut merupakan sumber awal kehidupan dan pranata masyarakat Toraja.

Kemudian beberapa dekade kemudian Tongkonan Layuk berkembang menjadi empat (4), dimana diawali ketika terjadinya pelanggaran tatanan adat di daerah Rura (masuk dalam wilayah Endrekang saat ini), sehingga menyebabkan bencana yang sangat dahsyat terjadi di daerah itu dimana konon ceritanya tana di Rura itu runtuh kebawah menyebabkan seluruh manusia yang menghadiri acara saat itu meninggal semuanya karena tertelan bumi dan ditimbun tangga penghubung antara langit dan bumi.

Para pemangku adat di wilayah selatan saat itu dan Toraja pada umumnya mengalami ketakutan dan kebingungan, dan menyesali apa yang telah terjadi akibat keegoisan seseorang.

Tetapi dalam doa yang senantiasa dipanjatkan mohon ampun kepada Tuhan (Puang Matua) maka para leluhur diberikan petunjuk untuk menghubungi dan menghadirkan To Burake Pong Sulo Ara' dari Sesean untuk memperbaiki dan mengatur kembali tatanan adat yang telah dilanggar oleh Londong Di Rura.

Oleh karena itu utusan dari Rura datang menemui To Burake Sulo Ara' dan kemudian Toburake Pong Sulo Ara' berangkat dari Sesean menuju Rura bersama dengan Pong Bua Uran, Mandai Kema dan Lo'ko' Isi serta para utusan.
Sesampainya di Rura To Burake Pong Sulo Ara' serta rekan-rekannya melakukan upacara pertobatan kepada Tuhan atas segala dosa yang telah dilakukan dan aturan yang telah dilanggar oleh manusia.

Setelah semuanya selesai dan pranata yang telah di susun kembali dan direstui oleh Puang Matua (Tuhan) maka pranata sosial ini disebarkan kembali ke seluruh wilayah Toraja ada yang kebagian barat Toraja, ada yang ke bagian timur Toraja, ada yang ke bagian tengah Toraja, dan ada yang kebagian utara Toraja.

Disnilah awal mula bertambahnya 2 (dua) Tongkonan Layuk sehingga menjadi 4 (empat) untuk mempermudah proses penyebaran pranata yang telah diretrukturisasi oleh To Burake Pong Sulo Ara'.

Selama sekian tahun lamanya pranata sosial ini diikuti dan ditaati oleh masyarakat waktu itu, sampai datangnya belanda ke Toraja. Stelah itu perkembangan Tongkonan Layuk menjadi 12 menurut catatan belanda, tetapi pada kenyataannya Pranata sosial yang ada di toraja tetaplah empat (4). Yang beraneka ragam adalah tradisi.

Kedua belas (12) Tongkonan Layuk yang dicatat belanda ini masih sering mengalami perdebatan, ada yang mengklaim itu adalah unsur politik jaman belanda ada pula dengan pendapat yang berbeda. Tetapi bagi masyarakat Toraja itu bukanlah sesuatu yang membuat mereka terpecah-belah melainkan dengan Tongkonan Layuk ini akan semakin mempererat rasa kekeluargaan dan persatuan masyarakat Toraja pada umumnya.

Awal Terciptanya Dunia

Pada awalnya ribuan tahun lalu, ruang ini masih gelap gulita belum ada apa-apa sama sekali, belum ada hewan dan binatang, tumbuh-tumbuhan, belum ada tanam-tanaman, belum ada manusia. Bumi dan langit masih menyatu, bumi dan langit menikah dan melahirkan dua orang manusia:

  1. Puang matua
  2. Puang tulak padang

Puang Matua lahir dari perkawinan bumi dan langit, dia tumbuh dan berkembang, dan akhirnya Puang Tulak Padang menekan bumi kebawah dan langit/angkasa didorong oleh Puang Matua keatas. Akhirnya bumi dan langit terpisah satu sama lain maka jadilah bumi dan langit.
Puang Tulak Padang turun ke bumi dan Puang Matua naik ke langit. Pada saat Puang Matua sudah berada dilangit dan memandang dari atas dan ia melihat bumi masih kosong melompong, kemudia ia berfikir bahwa harus diciptakan segala-galanya. Akhirnya diciptakanlah :

  1. Puang pirik-pirik moyangnya angin
  2. Datu laukku moyangnya manusia
  3. Kumirrik moyangnya bambu
  4. Banturinno moyangnya kerbau
  5. Re’bona lentek moyangnya babi
  6. Pong maro moyangnya ayam
  7. Mambua tasak moyangnya pinang
  8. Mengkala’ka’ moyangnya rumput dan tumbuh-tumbuhan dan semua jenis tumbuhan dibumi

Semua itu diciptakan oleh puang matua dari dalam sebuah tabung udara kembar. Setelah semua itu diciptakan oleh puang matua dilangit, dan kesemua ciptaannya ini masih ditempatkan dilangit. Ada seorang manusia dilangit Bernama Pong Bura Langi’ membuka pintu rumahnya dilangit kemudian ia melihat dari atas kebawah dan berkata dalam hatinya bahwa ini bumi dibawah bagus dijadikan kampung tapi sayang masih tertutup dengan air lautan.
Kemudian Puang Matua berfikir lagi dan mengambil satu genggam tanah diatas langit dan ditancapkan sebuah potongan tumbuhan gunung kemudian diturunkan kebawah bumi. Kemudian tumbuhan yang ditancapkan itu tumbuh subur sampai kelangit.
Dengan tumbuhan ini Pong Bura Langi’ mencoba berencana turun kebumi, tetapi belum sampai dipertengahan angin kencang/badai datang menerpanya sampai berayun kesana kemari, ke utara ke selatan, barat dan timur. Karena ketakutan akhirnya Pong Bura Langi kembali ke langit dan menemui Puang Matua dan berkata saya sangat letih dan Lelah diterpa angin badai.

Kemudian puang matua berfikir lagi, kemudian berkata mari kita membuat tangga dari langit ke bumi dan diciptakanlah tangga dari langit maka jadilah tangga penghubung antara langit dan bumi. Demikianlah puang matua menciptakan tangga dari langit ke bumi.
Tumpuan tangga dibumi berada sekitaran gunung lakawan disekitaran wilayah Rura. Setelah itu turunlah semua ciptaan Puang Matua itu kebumi melalui tangga yang telah diciptakan Puang Matua tersebut.

Akan tetapi ada 3 hewan yang turun dari langit tidak melalui tangga dari langit tersebut karena takut, hewan-hewan tersebut adalah:

  1. Moyangnya kerbau yakni menturino, ia turun dihulu bumi
  2. Moyangnya babita’bano lentek, ia turun disebelah barat di belau
  3. Moyangnya ayam, yakni pong maro’ ia turun dari langit dengan cara terbang kemudian hinggap diatas sebuah perahu dan kemudian terbang ke hutan.

Dengan adanya tangga penghubung antara langit dan bumi hubungan antara langit dan bumi, manusia dan Puang Matua sungguh sangat baik dan erat. Bila ada sesuatu yang akan dilakukan oleh manusia dibumi selalu menyampaikannya ke Puang Matua, sering pula Puang Matua turun dari langit memberkati manusia serta seluruh ciptaannya. Puang Matua memegang tampuk kekuasaan dan kebenaran.

Ada 4 orang yang diberi amanat oleh Puang Matua untuk memelihara apa yang dipercayakan padanya:

  1. Puang Tulak Padang, memelihara bumi bagian bawah
  2. Puang Banggai Rante, memerintah diatas muka bumi
  3. Puang Gaun Tikembong berkuasa atas langit
  4. Malaika’ Saratu Sumbung Pio sebagai pendamping Puang Matua.


Bersambung

Manganda'/Mang Ondoan Tanduk (Tari Manganda')

Tarian Manganda' atau Mangondoan tanduk adalah salah satu jenis tarian hasil karya seni Nenek Moyang orang Toraja yang konon ceritanya berasal dari Toraja Utara khususnya bagian Rinding Allo dan sekitarnya.
Para pemeran dalam tarian ini adalah kaum pria dewasa sampai tua yang masih bisa melakukan gerakan tari. Para pria menggunakan tanduk kerbau di kepala dan dihiasi uang logam dan menggunakan semacam bel atau lonceng kecil yang berdering-dering sambil diiringi teriakan oleh para penari dan suka cita dan pujian syukur kepada Puang Matua (Tuhan) atas limpahan berkatnya.

Tarian manganda' adalah tarian yang dipertunjukkan dalam acara rambu tuka' atau acara kesukaan pada acara pemujaan sesuai dengan kepercayaan agama lokal (Aluk To dolo)


Kata Manganda’ berasal dari kata sehari-hari yang digunakan masyarakat Toraja yang berarti nondo-nondo atau kondo atau loncat-loncat yang dibarengi dengan rasa kegembiraan. Tarian Manganda’ hampir sama dengan tari Ma’randing (tari Toraja yang ditarikan pada upacara rambu solo).
Gerakan dalam tarian ini tidak memiliki hitungan yang baku, yang baku hanyalah urutan geraknya saja.

Tarian manganda' pertama kali di pertunjukkan pada acara ma' bua' (ritus upacara adat tertinggi pada Acara rambu tuka') yang dilaksanakan oleh keluarga Polo Padang.
Manganda' juga dilaksanakan pada acara mangrara banua atau peresmian rumah adat dalam hal ini tongkonan.

Tetapi tidak semua daerah lingkungan adat mengadakan pesta Ma’bua' (ritus upacara adat tertinggi masyarakat Toraja jaman dahulu), karena hanya orang keturunan bangsawan yang dapat melaksanakannya. Acara manganda' tidak bisa ditampilkan pada semua acara mangrara banua (syukuran/hajatan selesainya rumah), karena manganda' adalah acara khusus bagi tongkonan bangsawan atau kasta tinggi pada jaman dahulu.

Pemeran dalam tarian manganda' adalah juga orang-orang yang mempunyai garis keturunan bangsawan atau kasta tinggi, jadi tidak semua orang bisa memerankan tarian ini, terlihat dari kostum yang digunakan seperti Sepu' (tas khas Toraja pada jaman dahulu merupakan barang mahal bisa mencapai harga satu ekor kerbau),tanduk kerbau dan ornamen-ornamen yang dipakai dalam kostum tersebut.

Tanduk kerbau yang digunakan adalah tanduk kerbau yang digunakan pada acara Rapasan sundun (upacara kematian tingkat tinggi masyarakat Toraja)

  • Tanduk kerbau yang dipasang diatas kepala penari melambangkan:
    • Simbol kebesaran
    • Simbol keperkasaan
    • Simbol keberanian
    • Simbol kekayaan
    • Simbol kebanggan
  • Koin-koin yang dirangkai dengan tali panjang dan dihiaskan pada mahkota kepala kerbau melambangkan:
    • Simbol kekayaan
  • Kain yang digantung pada mahkota kepala kerbau melambangkan:
    • Simbol Kebesaran
    • Simbol kekayaan
    • Simbol kemakmuran
  • Lonceng kecil yang dibunyikan melambangkan:
    • Simbol Pujian syukur kepada Tuhan(Puang Matua)
    • Simbol kegembiraan/ajakan untuk bergembira ria

Dalam tarian manganda' pemerannya tidak dibatasi tetapi jumlahnya harus ganjil sesuai dengan adat rambu tuka'. Kostum yang digunakan dalam tarian Manganda’ yaitu memakai baju adat laki-laki Toraja, yaitu baju tallu buku dan memakai sarung pattannun yang dipakai seperti selempang yang berwarna putih.
Kemudian hiasan kepala yang memakai simbol tanduk kerbau yang terdapat berbagai ornamen di sekitarnya seperti koin kuno, kain Ma’wa, kain Sarita, dan memakai bulu ayam.
Aksesoris yang digunakan yaitu memakai kalung tora serta memakai Sepu’ yakni tas khas Toraja yang juga sebagai pelengkap tarian manganda.

Berikut ini adalah uraian kostum dan aksesoris manganda':

    1. Baju dan seppa tallu buku pa' tannun atau dikondisikan : merupakan pakaian khas laki-laki Toraja

    2. Sarung pattannun : Sarung yang digunakan sebagai pelengkap dari kostum tarian ini, sarung tersebut dipakai seperti selempang, sarung pattannun yang dipakai yaitu berwarna putih (bisa dikondisikan) yang menyimbolkan bangsawan

    3. Tanduk Kerbau : Tanduk yang digunakan sebagai hiasan kepala. Tanduk yang dipakai bukan sembarang tanduk, tanduk ini merupakan tanduk dalam upacara tertinggi rambu solo yaitu rapasan sundun. Tanduk ini dihiasi beberapa ornamen-ornamen kuno lainnya

    4. Kain Ma’wa dan kain Sarita : yaitu kain kuno artinya bahwa orang Toraja dulunya memakai kain Ma’wa merupakan kain langkah hanya orang-orang tertentu yang memilikinya

    5. Bulu ayam: Hiasan tandu kerbau juga terdapat bulu ayam yang letaknya diatas uang koin kuno, makna dari bulu ayam tersebut yaitu bahwa dalam upacara Ma’bua yang pertama dilakukan yaitu memotong ayam di atas tongkonan. Jadi bulu ayam itu menyimbolkan sebagai tanda bahwa dalam upacara selalu ada pemotongan ayam

    6. Kalung Tora’ : Aksesoris yang digunakan dalam tarian Manganda yaitu kalung tora atau taring babi kalau tidak ada yang terbuat dari kayu

    7. Uang Koin kuno : Makna dari uang koin kuno ini yaitu bahwa uang merupakan kebutuhan utama, dan jika ingin melaksanakan upacara yang paling utama dibutuhkan yaitu uang

    8. Sepu' : Sepu' adalah tas kecil yang terbuat dari kain khas Toraja dan manik-manik yang berukuran kecil biasanya digunakan sebagai tempat menyimpan sirih dan pinang, atau biasa disebut pangngan oleh masyarakat Toraja. Tas ini dulunya hanya dipakai oleh keturunan bangsawan saja

    9. Alak musik yang digunakan : giring-giring sejenis lonceng ukuran kecil sebagai bunyian pemujaan dan penghormatan


Demikianlah uraian singkat mengenai Tarian Manganda' peradaban mengagumkan Nenek Moyang masa lalu semoga dapat menjadi inspirasi dan pengetahuan adat dan budaya generasi muda Toraja secara turun-temurun.

Peralatan penting PLTS

Alam sudah dari dulu menyediakan berbagai macam hal untuk dimamfaatkan dalam kehidupan manusia.
Salah satu energi alam yang sangat bermamfaat bagi kehidupan manusia adalah energi matahari yangmana bisa digunakan secara langsung maupun tidak langsung.
Pemamfaatan energi matahari dalam kehidupan manusia adalah sebagai sumber vitamin D untuk kekuatan tulang dan kesehatan lainnya. Energi matahari juga dapat dikonversi menjadi energi bentuk lain yang sangat bermamfaat bagi kehidupan manusia, seperti:

  • Memanaskan air
  • Penerangan dimalam hari
  • Suber daya penggerak dinamo-dinamo/pompa-pompa air
  • dan lain-lain

Dengan memamfaatkan energi matahari maka energi fosil dapat tergantikan sedikit demi sedikit dan harapan kita dengan energi matahari ini bisa memenuhi kebutuhan kehidupan kita karena energi matahari adalah energi yang ramah lingkungan, dan terbaharukan.

Memang disadari bahwasannya pada saat sekarang ini pengadaan peralatan konversi energi matahari ini masih relatif mahal, tetapi dengan kemajuan teknologi maka diharapkan peralatan-peralatan untuk menkonversikan energi matahari dalam kehidupan kita dapat semakin murah dan terjangkau oleh masyarakat banyak, sehingga ketergantungan terhadap energi fossil dapat teratasi.

Berikut ini adalah beberapa peratan penting untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS):

  • Panel surya
  • Solar charger controler
    • Solar Charger Controler (SCC) PWM
    • Solar Charger Controler (SCC) MPPT
  • inverter
    • Inverter non pure sine wave
    • Inverter pure sine wave
  • Aki atau baterai
  • Kw meter
  • dan lain-lain




Pada bagian lainnya kita akan membahas satu per satu mengenai fungsi dari peralatan-peralatan tersebut diatas

Pemali (Larangan) dalam Masyarakat Adat Suku Toraja

Dalam kehidupan bermasyarakat dimasing-masing wilayah atau suku bangsa memeiliki tata cara penerapan aturan atau undang-undang untuk ditaat dan dilaksanakan dengan berbagai pola
Di suku Toraja masa lampau undang-undang sudah ada meski tanpa notulensi atau hanya bahasa tutur/lisan saja
Salah satu yang akan dibahas disini adalah aturan yang berupa Larangan atau Pemali (istilah orang Toraja)

Pantangan atau larangan atau masyarakat Adat Toraja mengenalnya dengan istilah Pemali merupakan salah satu jenis larangan yang hanya dituturkan secara lisan atau langsung. Pemali atau Pamali atau larangan atau pantangan merupakan aturan yang tersirat yang disampaikan secara turun-temurun dalam lingkungan masyarakat adat.
Pada hakekatnya, pemali merupakan narasi untuk menakuti yang digunakan sebagai sarana untuk :

  1. Mendidik
  2. Menasehati
  3. Pemrintah dan larangan secara halus
  4. Ajakan untuk hidup baik
  5. Ajakan untuk menaati dan mengikuti aturan yang ada
Jadi pada hakekatnya Pemali adalah ajakan untuk hidup sesuai dengan norma-norma yang ada dan berfungsi sebagai kontrol sosial masyarakat sikap dan perilaku manusia pada suatu wilayah adat di Toraja

Solar Home System
Masyarakat Adat Toraja yang pada jaman dahulu menganut ajaran Aluk Todolo memiliki larangan-larangan yang berfungsi membatasi perilaku masyarakat adat yang disebut Pemali Sukaran Aluk agar kehidupan masyarakat dapat berlangsung secara baik dan sesuai dengan norma-norma yang ada sehingga kehidupan sosial masyarakat dapat berlangsung dengan tertib dan aman.

Pemali dalam masyarakat toraja dibagi dalam 4 kategori, yaitu:
  1. Pemalinna Ma' Lolo Tau
    Merupakan larangan yang menyangkut aturan hidup seorang manusia dengan hunbungannya dengan Puang Matua (Tuhan), Deata (dewa) dan To Membali Puang (arwah leluhur)

    Pemalinna Ma' Lolo Tau terbagi dalam 3 kategori besara, yaitu:
    1. Pemali urromok sapean tabang
      Pemali ini membatasi manusia dalam menghadapi upacaran selamatan. Sapean tabang artinya potongan daun lenjuang. Sapean tabang merupakan istilah masyarakat adat toraja untuk acara suka cita atau yang umum dikenal sebagai Rambu Tuka'. Daun lenjuang merupakan suatu simbol suka cita dan tanda kebijaksaan dalam masyarakat adat Toraja
    2. Pemali urromok panda di bolong
      Pemali ini berfungsi untuk membatasi manusia dalam penyelenggaraan acara kedukaan atau kematian atau istilah orang Toraja Rambu Solo'. Ditelisik dari makna leksikalnya , urromok bermakna meraba, panda bermakna batas, bolong bermakna hitam, sehingga istilah urromok panda di bolong berarti larangan untuk berbuar onar, mengganggu, merusak, atau mengacaukan acara ritus rambu solo' yang sedang berlangsung
    3. Pemali unnola tangsalunna
      Pemali ini membatasi memberikan batasan kepada manusia dalam kehidupan sehari-hari.
      Contoh dari pemali ini adalah:
      • Pemali urromok tananan pasa' (dilarang berbuat onar atau kekacauan dalam pasar
      • Pemali unsongkan dapo' (dilarang bercerai)
      • Pemali untu'tun punti adokan (dilarang membenarkan yang salah)
      • Pemali ma'kada tang tongan (dilarang berbicara/saksi dusta)
      • Dan lain-lain
  2. Pemalinna Aluk Patuoan
    Pemali ini merupakan aturan dalam pemeliharan hewan ternak.

    Contoh pemali ini adalah :
    • Pemali menyembeli kerbau bersama anaknya (pemali mantunu tedong siba anakna)
  3. Pemalinna Aluk Tananan
    Pemali ini merupakan aturan untuk prosesi baik dalam menanam maupun dalam pemeliharaannya.
    Contoh pemali ini adalah
    • Pemali mantanan bongi (dilarang menanam dimalam hari)
    • Pemali mangumbu' pare (dilarang mengambil bakal buah padi
    • Pemali sigising ke lampare (dilarang ribut kalau padi sedang tumbuh)
  4. Pemalinna Aluk Banua
    Pemali ini merupakan aturan untuk bangunan rumah dalam hal ini Tongkonan
    Contoh pemali ini adalah
    • Pemali palangngan tomate langngan banua tang lendu'pa alukna (larangan untuk menaikkan orang mati/mayat ke atas rumah tongkonan yang belus selesai ritual adatnya atau prosesi pentahbisannya


| Pelaksanaan Tindakan Pelanggaran Pemali |

Panel Surya Monocrystalline

300 wp
    Spesifikasi:
  • Peak Power (Pmax) : 300W
  • Max Power Voltage (Vmp) : 34.2V
  • Max Power Current (Imp) : 8.77A
  • Open-Circuit Voltage(Voc) : 41.04V
  • Short-Circuit Current (Isc) : 9.38A
  • Power Tolerance : +-3%
  • Max System Voltage : 1000V
  • Operating Temperature : -4'C to +85'C
  • Dimension(mm) : 1290 x 1134 x 35
  • Connector: MC4 Plug Type
320 wp
    Spesifikasi:
  • Peak Power (Pmax) : 320 WP
  • Max Power Voltage (Vmp) : 36.78V
  • Max Power Current (Imp) : 8.7A
  • Open-Circuit Voltage(Voc) : 45.53V
  • Short-Circuit Current (Isc) : 9.3A
  • Power Tolerance : +-3%
  • Max System Voltage : 1000V
  • Operating Temperature : -4'C to +85'C
  • Dimension(mm) : 1650 x 990 x 35
  • Connector: MC4 Plug Type
380 WP
    Spesifikasi :
  • Model SP380W-36V
  • Rated Maximum Power(Pm) : 380 WP
  • Tolerance : +/-3%
  • Voltage at Pmax(Vmp) : 40.15V
  • Current at Pmax(Imp) : 9.47A
  • Open-Circuit Voltage(Voc) : 49.4V
  • Short-Circuit Current(Isc) : 10.2A
  • Maximum Syste Voltage : 1000V DC
  • Operating Temperature : -40 to +85C
  • Series Fuse Rating(A) : 15
  • Cell Technology : Mono - Si
  • Dimension(mm) : 1979 x 992 x 35
  • Kabel Konektor dan MC4 (terpasang di belakang panel)


1 2 3 4 5 6 7

PaJeFi King L@nd Listrik +6281288977107

| Solar Home System | Panel Surya | Solar Charger Controler | Connector MC4 | Watt Meter | Battery | Cables | Inverter |

Panel Surya Monocrystalline

150 wp
    Spesifikasi:
  • Peak Power (Pmax) : 150WP
  • Cell Efficiency : 18%
  • Max Power Voltage (Vmp) : 17.8V
  • Max Power Current (Imp) : 8.43A
  • Open-Circuit Voltage(Voc) : 21.8V
  • Short-Circuit Current (Isc) : 9.08A
  • Power Tolerance : +-3%
  • Max System Voltage : 1000V
  • Operating Temperature : -4'C to +85'C
  • Series Fuse Rating(A) : 15
  • Number of bypass diode : 4
  • Solar Cells : 36 cell in series
  • Dimension(mm) : 1480 x 670 x35
  • Connector: MC4 Plug Type
200 wp
    Spesifikasi:
  • Peak Power (Pmax) : 200W
  • Max Power Voltage (Vp) : 36.2V
  • Max Power Current (Imp) : 6.22A
  • Open-Circuit Voltage(Voc) : 44.6V
  • Short-Circuit Current (Isc) : 6.67A
  • Max System Voltage : 1000V
  • Operating Temperature : -4'C to +85'C
  • Dimension(mm) : 1340 x 992 x 35
  • Connector: MC4 Plug Type
240 WP
    Spesifikasi:
  • Peak Power (Pmax) : 240W
  • Cell Efficiency : 21.5%
  • Max Power Voltage (Vmp) : 38.4V
  • Max Power Current (Imp) : 6.25A
  • Open-Circuit Voltage(Voc) : 49.5V
  • Short-Circuit Current (Isc) : 6.65A
  • Max System Voltage : 1000V
  • Operating Temperature : -4'C to +85'C
  • Dimension(mm) : 1320 x 992 x 35
  • Connector: MC4 Plug Type


1 2 3 4 5 6 7

PaJeFi King L@nd Listrik +6281288977107

| Solar Home System | Panel Surya | Solar Charger Controler | Connector MC4 | Watt Meter | Battery | Cables | Inverter |

Panel Surya Monocrystalline

50 WP
    Spesifikasi:
  • Merek Bio Solar
  • Model MS60M-36
  • Rated Maximum Power (Pmax) : 60 WP
  • Tolerance : 0~+5%
  • Voltage at Pmax (Vmp) : 18.2V
  • Current at Pmax (Imp) : 3.34 A
  • Open-circuit Voltage (Voc) : 21.51 V
  • Short-Circuit Current (Isc) : 3.59 A
  • Normal Operating Cell Temperature (NOCT) : 47-/+ 2'C
  • Maximum System Voltage : 1000 V DC
  • Operating Temperature : -40 to +85 C
  • Series Fuse Rating (A) : 10 A
  • Application Class : Class A
  • Fire Safety Class : Class C
  • Cell Technology : Mono-Si
  • Dimension (mm) : 540 x 680 x 30
  • Garansi : 5 tahun
100 WP
    Spesifikasi:
  • Rated Maximum Power (Pmax) : 120 WP
  • Tolerance : +3%
  • Voltage at Pmax (Vmp) : 19.2V
  • Current at Pmax (Imp) : 6.25 A
  • Open-circuit Voltage (Voc) : 24.8 V
  • Short-Circuit Current (Isc) : 6.65 A
  • Maximum System Voltage : 1000 V DC
  • Operating Temperature : -40 to +85 C
  • Series Fuse Rating (A) : 10 A
  • Application Class : Class A
  • Fire Safety Class : Class C
  • Cell Technology : Mono-Si
  • Dimension (mm) : 1000 x 670 x 30
  • Connector : MC4
  • Garansi : 5 tahun




1 2 3 4 5 6 7

PaJeFi King L@nd Listrik +6281288977107

| Solar Home System | Panel Surya | Solar Charger Controler | Connector MC4 | Watt Meter | Battery | Cables | Inverter |

Seraphina's Room


Anda butuh informasi mengenai:
  • Panel surya dan aksesorinya
  • Lampu penerangan jalan (PJU-TS) Tenaga Surya
  • Lampu Sorot Tenaga Surya
  • Lampu Taman Tenaga Surya
  • Lampu Emergency Tenaga Surya
  • Generator Mini Tenaga Surya


Silakan hubungi kami di +6281288977107